Ketika air
terkena najis maka kondisi air tersebut adakalanya mengalir dan ada kalanya
diam. Jika air tersebut tidak mengalir dan najis tersebut berupa najis yang
dapat dilihat dengan mata selain bangkai yang tidak memiliki darah yang
mengalir dan terjadi perubahan pada salah satu dari sifat air tersebut maka air
dihukumi najis [1]. Hal ini sesuai
dengan sabda Nabi :[2]
الماء طهور لا ينجسه
شيء إلا ما غير طعمه أو ريحه
Air hukumnya suci , sesuatu apapun tidak dapat
menajiskan air tersebut kecuali rasa dan
baunya berubah.
Imam ibnu Mundzir
mengatakan bahwa para ulama sepakat bahwa air yang jumlahnya sedikit ataupun
banyak ketika terkena najis dan air
tersebut berubah salah satu sifatnya maka
hukum air tersebut menjadi najis, baik air tersebut diam ataupun
mengalir, baik perubahanya sedikit ataupun banyak.
Yang paling
menakjubkan adalah madzhab Daud Ad-Dlahiri, madzhab ini menyendiri dari
kesepakatan ulama yang telah ada. Imam Daud mengatakan bahwa jika ada seorang
kencing pada air yang diam maka air tersebut tidak diperbolehkan untuk
digunakan berwudlu
namun boleh digunakan berwudlu bila kencing di air yang mengalir. Imam Daud juga
mengatakan jika seorang kencing pada sebuah bejana kemudian air kencing
tersebut dituangkan pada air yang suci maka air tersebut boleh digunakan untuk
berwudlu sebab orang tersebut tidak kencing langsung pada air tersebut. Yang
lebih extrim lagi, imam Dawud mengatakan jika seorang buang air besar pada air
yang mengalir maka tidak masalah untuk berwudlu dengan air tersebut sebab orang
tersebut tidaklah kencing namun buang air besar. Dasar yang disampaikan oleh
imam Daud adalah hadist Nabi :[3]
لا يبولن أحدكم في الماء الدائم
ثم يتوضأ منه
Janganlah salah satu diantara kalian kencing di
air yang diam kemudian air tersebut digunakan berwudlu.
Imam Nawawi mengatakan
bahwa pendapat dari madzhab ini sengatlah kliru dan telah menyimpang dan
menerobos dari kesepakatan ulama sebab para ulama tidak pernah memisahkan
antara tinja dan air kencing dan juga tidak memisahkan antara kencing langsung
pada air yang suci dengan kencing yang diletakkan dahulu pada sebuah bejana
lalu dimasukkan kedalam air tersebut. Berikut kutipan referensi yang disampaikan imam
Nawawi dalam Majmu’ atas penyimpangan yang dilakukan oleh imam Abu Dawud :
& المجموع
شرح المهذب الجزء
الاول صحـ 118
(فرع)
) نقل أصحابنا عن داود بن علي الظاهري الأصبهاني رحمه الله مذهبا عجيبا فقالوا
انفرد داود بأن قال لو بال رجل في ماء راكد لم يجز أن يتوضأ هو منه لقوله صلى الله
عليه وسلم لا يبولن أحدكم في الماء الدائم ثم يتوضأ منه وهو حديث صحيح سبق بيانه
قال ويجوز لغيره لأنه ليس بنجس عنده ولو بال في إناء ثم صبه في ماء أو بال في شط
نهر ثم جرى البول إلى النهر قال يجوز أن يتوضأ هو منه لأنه ما بال فيه بل في غيره
قال ولو تغوط في ماء جار جاز أن يتوضأ منه لأنه تغوط ولم يبل.وهذا مذهب عجيب وفي
غاية الفساد فهو أشنع ما نقل عنه إن صح عنه رحمه الله.وفساده مغن عن الاحتجاج عليه
ولهذا أعرض جماعة من أصحابنا المعتنين بذكر الخلاف عن الرد عليه بعد حكايتهم مذهبه
وقالوا فساده مغن عن إفساده وقد خرق الإجماع في قوله في الغائط إذ لم يفرق أحد
بينه وبين البول ثم فرقه بين البول في نفس الماء والبول في إناء ثم يصب في الماء
من أعجب الأشياء ومن
أخصر ما يرد به عليه أن النبي صلى الله عليه وسلم نبه بالبول على ما في معناه من
التغوط وبول غيره كما ثبت أنه صلى الله عليه وسلم قال في الفأرة تموت في السمن إن
كان جامدا فألقوها وما حولها.إهـ

No comments:
Post a Comment